Etika di Rumah Sakit

tatakelola rs

KERS

Pengelolaan Rumah Sakit  yang efisien dan efektif haruslah berdasarkan atas dengan 3 prinsip: Good Corporate Governance (GCG), Good Clinical Standard (GCS); dan Good Ethical Practice (GEP). Ketiganya disebut sebagai TRILOGI Tata Kelola Rumah Sakit. Di Indonesia maka istilah yang dipakai adalah Hospital Bylaw, Medical Staff Bylaw dan Kode Etik Rumah Sakit.

Penyebab timbulnya kasus komplain di Rumah Sakit  akhir- akhir ini dipengaruhi banyak faktor. Pertama pelayanan yang tidak memenuhi standar minimal, kemudian sistem pelayanan Rumah Sakit dan komunikasi yang buruk.  Selanjutnya Komite Medis & Keperawatan yg tidak berfungsi baik dibarengi dengan standar profesi yang sudah tidak update. Selain itu Pengamalan Etika RUMAH SAKIT  tidak sempurna dan Pengetahuan & Keberanian pasien meningkat seiring dengan banyaknya informasi di media maya. Tidak ketinggalan faktor banyaknya pengacara/ media/ organisasi  yang “proaktif” mendekati pasien yang tidak puas terhadap pelayanan Rumah Sakit.

Di dalam KODERSI terdapat Kode Etik Rumah Sakit Indonesia  yang terdiri dari 23 pasal berisikan lima macam kewajiban:

  • Kewajiban Umum Rumah Sakit
  • Kewajiban Terhadap Masyarakat dan Lingkungan
  • Kewajiban Terhadap Pasien
  • Kewajiban Terhadap Pimpinan, Staf, dan Karyawan
  • Kewajiban  Dengan Lembaga Terkait

Ada empat pilar utama dalam menegakkan Good Ethical Practice  (GEP). (a) Menghormati Otonomi pasien/klien; (b) Berlaku adil, tidak ada diskriminasi, dan jujur (fair) terhadap pasien / klien; (c) Beneficence, hanya melakukan hal-hal yang baik dan bermanfaat bagi pasien / klien  (“Amar ma’ruf “) dan (d) Nonmaleficence, tidak menimbulkan mudarat dan cidera pada pasien / klien (“Nahi mungkar“)

Untuk menegakkan GEP ini rumah Sakit harus membentuk komite etik rumah Sakit ( KERS ) yang juga merupakan syarat dari operasional rumah sakit. KERS ini berlaku sebagai pembina praktek GEP. Dibentuk oleh Pemilik atau Pimpinan Rumah Sakit dan bertanggung jawab kepada pihak yang mengangkatnya. Tugas pokok dari KERS yaitu memberi saran, nasehat, dan pertimbangan kepada Pimpinan dan Pemilik Rumah Sakit agar, setiap kebijakan dan keputusan Rumah Sakit sesuai dengan KODERSI.

Dalam struktur Rumah Sakit, maka kedudukan KERS serupa dengan Komite Medis Rumah Sakit. Susunan KERS terdiri dari Ketua, Sekretaris dan anggota. Keanggotaan KERS harus mewakili berbagai profesi yang bekerja di dalam Rumah Sakit. Syarat untuk dapat dipilih menjadi anggota KERS adalah berjiwa Pancasila, memilki integritas, kredibilitas sosial dan profesional, serta memiliki kepedulian terhadap masalah sosial dan lingkungan.

Komite Etik Rumah Sakit  diharapkan berperan secara aktif menangani masalah etika institusi Rumah Sakit yang cakupannya lebih luas daripada etika profesi, hukum, atau disiplin profesi. Selain itu KERS juga diharapkan membina praktek GEP dalam penyelenggaraan Rumah Sakit.

Keberadaan KERS tidak dimaksudkan untuk menghilangkan peran panitia etik profesi, dan bisa saja struktur panitia etik profesi (dokter, perawat, dll)  digabungkan dalam KERS, sehingga dengan demikian seluruh permasalahan Rumah Sakit yang berkaitan dengan etika biomedis ditangani oleh KERS.

Fungsi KERS antara lain :

  • Memberikan pendidikan etika dalam pelayanan medis bagi seluruh pegawai rumah sakit.
  • Menyusun kebijakan rumah sakit agar konsisten untuk menerapkan GEP.
  • Membahas kasus etika di rumah sakit.
  • Memberikan konsultasi dan rujukan kasus etika institusi di rumah sakit.
  • Konsultasi  dan rujukan kasus etika Institusi di Rumah Sakit.
  • Melakukan mediasi dengan membantu menyelesaikan perselisihan antara pasien dan pihak Rumah Sakit dan mencari jalan keluar yang dapat diterima kedua belah pihak
  • Mediasi oleh KERS diharapkan bisa efektif karena anggotanya adalah tenaga senior, memiliki kredibilitas, bersifat multidisiplin
  • KERS dapat mengundang berbagai pihak untuk membantu mediasi sebelum dibawa keluar dari lingkup Rumah Sakit
  • Membantu semua pihak (dokter, Rumah Sakit , pasien, masyarakat) memahami etika Rumah Sakit
  • Menangani masalah etika di Rumah Sakit  agar pelayanan Rumah Sakit dapat diberikan secara bermutu, berkualitas, dan profesional, didukung dengan kerjasama dalam sistem rujukan MAKERSI / PERSI
  • Meningkatkan kepuasan dan kepercayaan pasien akan pelayanan Rumah Sakit  dengan hadirnya KERS
  • Menjamin terwujudnya pelaksanaan TRILOGI Tata Kelola Rumah Sakit (GCG, GCS, GEP). (admin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>