Surveillance VAP

VAPVentilator Associated Pneunomia (VAP) aadalah bentuk infeksi HAIs yang sering terjadi dan banyak ditemukan di  unit perawatan intensif. Penyebab utamanya adalah organisme gram negatif dan kebanyakan organisme tersebut didapatkan pada peralatan yang dipakai. VAP ini terjadi sampai 40% dari pasien yang menggunakan ventilasi mekanik lebih dari 48 jam, dan timbul antara 10-65% dari seluruh pasien yang terpasang ventilator. Yang cukup memprihatinkan adalah mortalitas rate nya antara 24 sampai dengan 56 persen (American Journal Resprition Critical care, 2002). Kuman yang dominan sebagai penyebab mortalitas adalah Pseudomonas dan Acinetobacter.

Ada dua klasifikasi VAP yaitu early-onset yang terjadi setelah 48-72 jam setelah dilakukan tracheal intubasi. Organisme yang berperan biasanay Hemoplhyllus influenza, Streptococcus pneumoniae, Staphylococcus aureus (methicillin sensitive), E. Coli dan Klebsiella.

Klasifikasi ke dua adalah late-onset yang terjadi setelah lebih dari 72 jam intubasi. Biasanya disebabkan oleh Pseudomonas aeruginosa, Acinetobacter dan Staphylococcus aureus (methicillin resistant). Atau biasanya multiple antibiotic resistant.

Pengertian surveillance VAP adalah pengumpulan data kejadian pneumonia akibat pemakaian ventilasi mekanik lebih dari 48 jam, data dikumpulkan secara sistematik, dianalisis dan diinterpretasikan untuk digunakan dalam perencanaan penerapan dan evaluasi,  kemudian di desiminasikan secara berkala kepada pihak-pihak yang memerlukan.

Untuk menentukan laju infeksinya, pertama anda tentukan numeratornya yaitu berupa jumlah pasien terinfeksi akibat pengguinaan ventilator. Sedangkan denominatornya adalah jumlah hari penggunaan ventilator. Besarnya laju infeksi ditentukan sebabagi numerator dibagi denominatornya dan dinyatakan dalam persen.

Bila laju infeksi ini cukup besar dan ditunjang dengan hasil pembiakan bakteri yang menentukan jenis bakteri yang ada, maka dapat dilakukan langkah-langkah pencegahannya. Dalam hal ini petugas sangat berperan penting untuk mengurangi kejadian VAP. Biasanya kuman penyebab VAP terbanyak adalah kuman yang sudah resisten terhadap antimikroba.

Untuk mencegah VAP harus dilakukan langkah-langkah yang memutus mata rantai perkembang biakan bakteri tersebut. Ada empat tindakan utama dalam pencegahan VAP.  Pertama, melakukan pendidikan dan pelatihan terhadap petugas kesehatan mengenai Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit. Selain itu juga pelatihan bed side teaching untuk petugas yang menangani pasien dengan mekanikal ventilasi. Dan jangan lupa setelah itu melakukan audit kepatuhan petugas terhadap kepatuhan menjalankan SPO pencegahan dan pengendalian VAP.

Kedua, mengurangi kolonisasi mikroorganisme, dengan jalan antara lain : hand hygiene bagi semua yang bersentuhan dengan pasien, laringoscope blade selalu terlebih dahulu di alkoholise sebelum digunakan, hindari re-intubasi, oral hygiene dan kebersihan mulut dijaga, penghisapan lendir, peralatan yang harus steril, pemberian obat-obatan untuk menghindari stress ulcer, pengaturan penbggunaan obat untuk selective Digestive Tract dan DVT/PUD Prophylaxis

Ketiga, menghindari aspirasi. Dengan cara secara rutin melakukan oral suctioning subglotic. Usahakan posisi pasien dalam posisi tidur 30-45o bila tidak ada kontra indikasi, lakukan perawatan cuff ETT dan lakukan pemeriksaan selang NGT secara teratur adakah terjadi kondensasi yang menandakan adanya infeksi atau tidak.

Dan yang terakhir berfungsi sebagai alat evaluasi yaitu dengan melakukan surveillance VAP secara teratur. (zs)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>